BLOG & TUTORIAL
Daftar postingan

Imbas Medsos Dibatasi, WhatsApp Turun dan Instagram Hampir Habis

2019-06-13

Beberapa hari lalu, pemerintah memberlakukan pembatasan fungsi media sosial dan aplikasi pesan instan WhatsApp untuk menekan peredaran hoaks menjelang demonstrasi pada 22 Mei. Pembatasan unggahan foto dan video itu secara langsung berdampak pada trafik data operator seluler XL Axiata. Direktur Teknologi XL Axiata Yessie D Yosetya mencatat penurunan keseluruhan sebesar 10 persen di lalu lintas data jaringannya. Khusus  WhatsApp, Yessie mengatakan penurunan trafik yang terjadi lebih dari 50 persen, sedangkan trafik untuk media sosial Instagram disebutnya nyaris habis.  “Instagram kan pada dasarnya foto dan video. Hampir habis semua,” ujar Yessie ketika ditemui di sela acara buka puasa di kantor XL Axiata di Jakarta, Jumat (24/5/2019). Pada hari pertama penerapan pembatasan 22 Mei, sebagian pengguna sempat mengeluhkan fungsi aplikasi yang terganggu, seperti pengirman gambar WhatsApp yang pending terus-menerus. Namun, Yessie mengatakan gangguan tersebut bersifat sementara karena ketika itu pihaknya sedang menerapkan perubahan konfigurasi untuk pertama kali.  “Konfigurasinya dilakukan secara nasional, jadi berdampak,” kata Yessie sambil menambahkan bahwa kecepatan jaringan internet XL Axiata tidak terpengaruh oleh konfigurasi tersebut. Sebelumnya, pemerintah melalui Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan beberapa fungsi media sosial dan pesan instan di Indonesia memang sengaja dibatasi, dengan tujuan meredam arus kabar bohong yang beredar di medium-medium tersebut. Efeknya, antara lain, pengiriman gambar jadi sulit atau tidak bisa dilakukan. Sementara download video menjadi lambat. Rudiantara meminta masyarakat untuk mengacu pada media mainstream sebagai andalan sumber informasi, bukan media sosial yang kebenarannya diragukan.  “Kami sangat mengapresiasi media mainstream. Biasanya main di media sosial dan sekarang kita kembali ke media mainstream,” katanya.    Sumber : https://tekno.kompas.com/read/2019/05/25/08180037/imbas-medsos-dibatasi-whatsapp-turun-dan-instagram-hampir-habis
Lanjut baca

2 Pejabat penting di Facebook mengundurkan diri

15-03-2019

CEO Facebook Mark Zuckerberg pekan ini mengumumkan mundurnya dua pejabat penting di Facebook Inc. Mereka adalah Chris Cox, yang sebelummya menjabat sebagai Chief Product Leader Facebook dan Chris Daniels, Vice President WhatsApp. Mundurnya dua sosok di Facebook itu tak berselang lama setelah Zuckerberg mengumumkan rencana besarnya untuk mentransformasi seluruh jejaring sosialnya dengan sistem enkripsi mirip SMS. "Saya ingin membagikan pembaruan terpenting saat kami sedang mengelola perusahaan kami untuk membangun platform sosial yang fokus pada privasi yang saya bahas minggu lalu," tulis Zuckerberg, mengawali pengumuman mundurnya Cox dan Daniels. Cox sendiri telah bergabung dengan Facebook lebih dari satu dekade. Pada 2005, ia memilih untuk meninggalkan studi pascasarjananya di Universitas Standford, lalu bergabung dengan Facebook sebagai teknisi software. Cox berjasa mengembangkan fitur News Feed di Facebook. Selain itu, Cox juga berperan dalam pembuatan tim sumber daya di Facebook, mengepalai tim desain dan produk, menjalankan aplikasi, serta mengawasi seluruh aplikasi di bawah naungan Facebook. "Dia (Cox) adalah orang paling bertalenta yang saya kenal dan memiliki potensi untuk melakukan sesuatu yang ia mau," kenang Zuckerberg. Ia juga mengatakan bahwa Cox merupakan sosok yang sangat penting. Ada banyak kemajuan yang telah dikembangkannya bersama Cox, termasuk pembuatan layanan enkripsi dan interoperabilitas antarmuka di seluruh layanan di Facebook. Di saat yang bersamaan, Chris Daniels yang mengomandoi aplikasi WhatsApp juga undur diri. Menurut Zuckerberg, Daniels berjasa membangun model bisnis WhatsApp untuk masa depan.  "Chris adalah pemikir yang jelas dan berprinsip yang pernah saya temui. Bantuannya dalam menavigasi segala tantangan yang kami hadapai sangat mengesankan," tulis Zuckerberg, dirangkum KompasTekno dari Newsroom Facebook, Jumat (15/3/2019). Pimpinan baru Ditinggal dua sosok penting saat mulai dengan visi bisnis baru membuat Facebook harus segera mencari pengganti untuk mengisi posisi yang kosong. Untuk menggantikan Daniels, Zuckerberg menunjuk Will Cathcart, Vice President of Product Management. "Will adalah pemimpin bertalenta di perusahaan kami, selalu fokus memecahkan masalah paling penting untuk orang-orang dan melihat dengan jernih tantangan yang kami hadapi," ujar Zuckerberg. Zuckerberg juga mengumumkan pengangkatan Head of Video Games and Monetization Fidji Simo sebagai Head of Facebook Apps. Simo dan Cathcart telah bekerja sama untuk membuat alat pengunggah video dan konten video profesional ke Facebook. Dari situlah, Facebook mulai menjaring banyak penonton dan pundi-pundi lain dari iklan video. Semua aplikasi di bawah naungan Facebook selama ini diawasi oleh Cox dan Javier Olivan. Olivan sebelumnya bertanggung jawab untuk layanan utama semua produk, seperti keamanan dan integrasi, analitik, pertumbuhan, dan iklan. "Sekarang, Olivan akan bertugas untuk mengidentifikasi di mana aplikasi kami harus terintegrasi," tulis Zuckerberg. Namun, Zuckerberg mengaku belum berencana menunjuk orang untuk menggantikan Cox saat ini.   Untuk sementara waktu, semua petinggi aplikasi, mulai dari Facebook (Simo), Instagram (Adam Mosseri), Messenger (Stan Chudnovsky), dan WhatsApp (Cathcart), akan bertanggung jawab langsung kepada Mark Zuckerberg. Baca juga: Ingkar Janji Mark Zuckerberg Kepada WhatsApp, Instagram, dan Messenger "Ini merupakan perubahan penting saat kami memulai babak baru dalam membangun fondasi sosial yang fokus pada privasi di masa yang akan datang," lanjut Zuckerberg. Baik Zukckerberg maupun perwakilan WhatsApp enggan membeberkan apa yang menjadi alasan Cox dan Daniels mundur dari Facebook.Inc.Sumber : KOMPAS-TEKNO
Lanjut baca

14 Miliar Google Sumbang untuk Bantu Mitigasi Bencana di Indonesia

17-03-2019

Lembaga filantropi milik Google, Google.org, mengumumkan pemberian hibah senilai 1 juta dollar AS (sekitar Rp 14,2 miliar) kepada Yayasan Sayangi Tunas Cilik (mitra dari Save the Children) untuk membantu meningkatkan persiapan risiko dan mitigasi bencana di Indonesia. Bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), proyek percontohan selama satu tahun ini akan berfokus untuk meningkatkan kesadaran dan aksi masyarakat, termasuk anak-anak, yang tinggal di wilayah berisiko tinggi dan rawan bencana. Presiden Google.org, Jacquelline Fuller, mengungkapkan bahwa bencana alam bisa membuat kondisi jutaan orang rentan dan trauma. Keadaan tersebut lantas bisa jadi menyulitkan kondisi hidup masyarakat yang terdampak bencana, terutama anak-anak. “Bencana alam bisa membuat jutaan orang menjadi rentan dan keadaan ini bisa sangat menyulitkan, terutama bagi anak-anak,” ucap Jacquelline dalam keterangan tertulis yang diterima KompasTekno, Minggu (16/3/2019). Hal itulah yang membuat Google.org tertarik menghibahkan dana miliaran rupiah tersebut ke Yayasan Sayangi Tunas Cilik, demi membekali masyarakat dan anak-anak dengan pengetahuan mitigasi bencana alam. Ketua Yayasan Sayangi Tunas Cilik, Selina Sumbung, menyambut baik hibah dari Google.org ini. Ia juga berharap dapat bermitra dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah hingga sektor swasta, untuk memperluas program mitigasi bencana ini ke seluruh pelosok Indonesia.  “Seiring waktu, kami berharap bisa bermitra dengan pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil untuk memperluas program ini ke lebih banyak provinsi dan jutaan anak di seluruh Indonesia,” ujar Selina. Bentuk upaya yang bakal dilakukan oleh Yayasan Sayangi Tunas Cilik ini sendiri akan mencakup beberapa kegiatan kampanye dan edukasi ke masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana.  Lebih detail, yayasan tersebut akan melakukan kampanye dan aksi masyarakat untuk meningkatkan kesadaran nasional dengan memanfaatkan platform online dan offline guna memastikan gedung-gedung sekolah dalam keadaan aman untuk mitigasi bencana. Anak-anak serta masyarakat di sekitar daerah rawan bencana juga bakal dididik agar lebih siap jika nanti bencana datang secara tiba-tiba. “Tujuan kami adalah mengedukasi dan memberdayakan masyarakat untuk merencanakan dan bersiap menghadapi situasi darurat, serta mengurangi jumlah korban dan anak-anak yang terdampak bencana alam, yang jumlahnya sering kali mencapai ribuan setiap tahunnya.” tutup Selina. Google.org sendiri bukan kali pertama memberikan hibah ke Indonesia. Sejak tahun 2015 hingga saat ini, Google.org telah mengkucurkan dana hibah di Indonesia senilai lebih dari 8 juta Dollar AS atau setara dengan Rp 114 miliar.  Hibah-hibah yang sudah digelontorkan tersebut diketahui difokuskan untuk membantu meningkatkan area-area penting lainnya seperti literasi digital dan keamanan saat melakukan aktivitas online.Sumber : KOMPAS-TEKNO
Lanjut baca

Facebook Hapus 1,5 Juta Video Penembakan di Selandia Baru

1923-10-16

Video aksi teror penembakan di masjid Al Noor di Christchurch, Jumat (15/3/2019), beredar luas di media sosial. Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, pun meminta Facebook untuk mengatasi peredaran video terkait. Permintaan tersebut segera ditanggapi Facebook. Melalui akun Twitter resminya, Facebook mengklaim telah menghapus 1,5 juta video di seluruh dunia dalam 24 jam setelah video tersebut diunggah ke jejaring sosialnya.   Dari jumlah itu, 1,2 juta video langsung diblokir saat pertama kali diunggah. Tak hanya video orisinil, video penembakan yang telah di-edit juga telah dihapus. "Untuk menghormati orang-orang yang terdampak tragaedi ini, berikut keprihatinan otoritas setempat, kami juga menghapus semua versi video hasil editing yang tidak menunjukkan konten kekerasan," ujar Mia Garlick, perwakilan Facebook Selandia Baru.   Setelah insiden penembakan terjadi, Facebook juga mengatakan telah menarik semua posting yang berisi pujian atau dukungan pada aksi ini, sekaligus bekerjasama dengan polisi Selandia Baru untuk penyelidikan lebih lanjut. Sengaja menyiarkan Pelaku penembakan sengaja menyiarkan aksinya melalui Facebook. Dari manifesto yang diunggahnya, motif pelaku ditengarai mendukung agenda anti-imigran. Meski banyak warga dunia yang prihatin dan menunjukan empati, tapi tak sedikit pula yang menyelipkan video aksi keji tersebut ke barbagai platform media sosial, seperti YouTube, Instagram, atau Twitter. Dirangkum KompasTekno dari Engadget, Senin (18/3/2019), sekitar 300.000 kopi dari video sempat dibuat dengan sengaja lalu diunggah ke media sosial sebelum akhirnya dihapus.   Menyebarkan video lebih luas hanya akan menimbulkan ketakutan, kecemasan, dan kebencian, sesuai dengan kehendak pelaku teror. Facebook sendiri memadukan teknik moderasi manual dari tenaga manusia yang didukung dengan machine learning untuk melacak penyebaran video dan menghapusnya. Namun, cara ini masih meninggalkan pekerjaan rumah untuk mempercepat penghapusan video dan membuatnya lebih sulit untuk disebar. Selain Facebook, YouoTube juga telah melakukan yang sama. Melalui akun Twitter resminya YouTube menyatakan akan menghapus semua rekaman yang berkaitan dengan insiden ini. "Hati kita hancur karena tragedi mengerikan hari ini di Selandia baru. Ketahuilah, bahwa kami bekerja dengan waspada untuk menghapus rekaman kekerasan apa pun," tulis YouTube lewat akun Twitternya.   Sumber : KOMPAS-TEKNO
Lanjut baca

Hubungi kami
: +6281939378377

Online Shop & WEB Services

Belanja Online dengan pilihan berbagai macam Produk Busana Pria, Busana Wanita, Aksesoris Dompet murah, Tas selempang terkini, Ransel murah dan masih banyak lagi. Jangan ketinggalan juga Buka Toko Onlinemu sekarang, Kami sediakan Website handal dan Profesional untuk membantu Anda berjualan Online.

©2018 - MISJOWH
Developed by : MISJOWH TEAM